Wednesday, 6 February 2019

VISI PEDAGOGI PEMBELAJARAN ABAD KE-21


Berbagai kajian menunjukkan bahwa siswa lebih berhasil memperoleh kompetensi baru ketika mereka membangun kemampuan metakognitif yang kuat, melakukan refleksi yang obyektif terhadap konsep-konsep yang baru dipelajari, dan mengintegrasikan informasi tersebut dengan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki. Proses beradaptasi terhadap pengetahuan yang baru dan memasukkannya ke dalam kerangka kerja konseptual yang telah dimiliki, akan mendukung pembelajaran lebih lanjut, dan pada saatnya akan memunculkan kreativitas dan orisinalitas, dan menentukan kebiasaan kognitif baru. Hal tersebut juga meningkatkan keterampilan berpikir kritis (Lai, 2011).

Pengembangan metakognisi juga didorong oleh kegi atan pembelaj aran berbasis masal ah yang memerlukan kerjasama dengan teman. Proses kolaborasi merangsang siswa untuk mempertimbangkan penggunaan pengetahuan untuk hal baru bersama teman-temannya dan mengembangkan aplikasi baru. Pembelajaran yang menciptakan sebuah komunitas belajar yang positif dan efektif dapat mendukung pembelajaran yang lebih dalam melalui pemerolehan konten pengetahuan dan pengembangan kompetensi intrapersonal dan interpersonal (National Research Council, 2012).
Guru dapat menggunakan respon siswa sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan mereka untuk belajar lebih dalam, dan memperkenalkan konsep-konsep baru yang sesuai dengan menantang pemikiran mereka (Bolstad, 2011).

Hasil belajar yang baik adalah ketika individu melebihi harapan untuk menghafal dan mengulang fakta dan pengetahuan yang terputus (dengan aplikasi tertentu), dan menangkap peluang untuk memahami konsep-konsep yang sulit dan ide yang kompleks, mengevaluasi ide-ide baru, dan membuat inti sari wawasan mereka sendiri. Saavedra dan Opfer (2012) menyarankan sembilan prinsip untuk mengajarkan keterampilan abad ke-21: (1) membuat pembelajaran relevan dengan 'big picture'; (2) mengajar dengan disiplin; (3) mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih rendah dan lebih tinggi untuk mendorong pemahaman dalam konteks yang berbeda; (4) mendorong transfer pembelajaran; (5) membelajarkan bagaimana 'belajar untuk belajar' atau metakognisi; (6) memperbaiki kesalahpahaman secara langsung; (7) menggalakkan kerja sama tim;(8) memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran; dan (9) meningkatkan kreativitas siswa.

Bagaimana bentuk pedagogi yang paling berpotensi dalam memberdayakan kompetensi dan keterampilan penting di masa depan yang kompleks dan tidak pasti? Bagian berikut menjelaskan perspektif yang mendukung pembelajaran sedemikian. Perbarui pada Kualitas Permasalahan yang berkaitan dengan kualitas dan capaian pembelajaran kembali menjadi agenda pendidikan di seluruh dunia. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua, yang didasarkan pada empat bidang prioritas: (1) perluasan akses terhadap pembelajaran yang berkualitas untuk semua, pada semua tingkat pendidikan; (2) perhatian terhadap kualitas pendidikan, termasuk konten dan relevansi, serta hasil belajar; (3) perhatian lebih besar pada keadilan; dan (4) kesetaraan gender dengan fokus baru pada peningkatan akses untuk anak perempuan pada lingkungan yang aman dan mendukung pembelajaran. 

Pada dasarnya, pembelajaran yang berkualitas membutuhkan guru yang kompeten dan berkomitmen pada pedagogi yang aktif. Bantu Perkembangan Partisipasi Saat i ni bukan masanya l agi orang-orang bel ajar dan bekerj a dal am kondisi terisol asi, karena mereka dapat mengambil bagian dalam komunitas online. Mereka dapat berbagi pendapat, ide, wawasan dan saling memberi masukan atau kritik secara langsung. Media sosial telah mengubah lingkungan belajar dan mengajar. 

Kamera ponsel membuat orang dapat berbagi pengalaman dengan orang lain di ruang virtual secara langsung. Munculnya Instagram, Flickr dan Twitter, dapat membantu pelaporan tentang perkembangan siswa terbaru dapat diunggah dan terbuka untuk komentar publik. McLoughlin dan Lee (2007) menyatakan bahwa media sosial dapat membuat siswa berkeinginan untuk berpartisipasi dan berhubungan dengan orang lain. Media sosial juga dapat mendukung pembelajaran bermakna secara pribadi melalui koneksi, kolaborasi dan berbagi dalam membangun pengetahuan. 

Guru dapat bereksperimen dengan media sosial untuk melibatkan siswa dan membuka kemungkinan baru untuk kolaborasi, penciptaan konsep-konsep baru, dan aplikasi ilmu-ilmu untuk pembelajaran abad ke-21. Bahkan potensi siswa dapat dikembangkan dalam hal kreativitas, partisipasi, personalisasi, produktivitas dan pengarahan di ri nya sendiri.

 Personalisasi dan Penyesuaian Belajar Setiap orang memiliki berbagai cara untuk memperoleh keahlian, oleh karena itu sebaiknya pembelajaran diarahkan untuk mengakomodasi beragam gaya dan cara belajar siswa. Pembelajaran abad ke-21 memerlukan pembelajaran yang lebih personal untuk mendukung kreativitas. Menurut Redecker et al. (2011), personalisasi memiliki implikasi tentang apa, bagaimana dan di mana guru mengajar. 

Personalisasi dapat terjadi melalui kolaborasi. Kolaborasi memungkinkan proses berbagi inovasi terjadi lebih cepat dan informasi tentang bakat serta kemajuan siswa lebih segera diketahui. Guru untuk abad ke-21 diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingn tahu dan menginspirasi siswa untuk mengeksplorasi berbagai aplikasi untuk pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka pelajari. Desain pembelajaran akan memainkan peran sentral dalam keberhasilan pembelajaran abad ke-21. Kreativitas dan kemampuan guru untuk merancang kegiatan belajar yang menarik sangat penting dalam hal ini.

McLoughlin dan Lee (2008) menyatakan bahwa praktek pembelajaran yang efektif dan inovatif akan berbeda sesuai dengan mata pelajaran, namun tekanannya pada hal-hal yang tidak jauh berbeda yaitu: kompetensi digital yang berfokus pada kreativitas dan kinerja individu; strategi untuk meta-learning, termasuk pembelajaran yang dirancang; model penalaran induktif dan kreatif, dan pemecahan masalah; penyusunan konten pembelajaran dan pembentukan pengetahuan secara kolaboratif; pembelajaran horizontal (peer-to-peer), dan hal lainnya. 

Penekanan pada Pembelajaran Berbasis Proyek dan Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang ideal untuk memenuhi tujuan pendidikan abad ke-21, karena melibatkan prinsip 4C yaitu critical thinking, communication, collaboration dan creativity (berpi ki r kritis, komuni kasi, kolaborasi dan kreativitas). 

Hasil penelitian tentang pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut memberikan keuntungan bagi siswa untuk belajar secara faktual dibandingkan pembelajaran di kelas yang lebih tradisional. Trilling dan Fadel (2009) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan model tersebut dalam waktu yang cukup lama, menunjukkan hasil belajar dan berbagai keterampilan abad ke-21 dari siswa secara signifikan berbeda dengan kel as yang menggunakan metode tradisi onal. 

Namun demikian, agar pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah dapat berjalan dengan baik, guru harus merancang rencana kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, dan tentu saja disesuaikan dengan kurikulum. Mungkin tidak mudah menerapkan kedua model pembelajaran tersebut dengan standar alokasi waktu perjam 45 – 50 menit seperti lazimnya, namun hal itu dapat diupayakan dengan alternatif penjadwalan kegiatan belajar yang direncanakan dengan sebaik-baiknya. Woods (2014) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah pada akhirnya memerlukan perubahan dalam peran guru dari menjadi 'sumber pengetahuan' menjadi pelatih dan fasilitator untuk memperoleh pengetahuan.

Bagi sebagian guru, mungkin menimbulkan ketidaknyamanan dengan adanya pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa ini. Dorong Kerjasama dan Komunikasi Saat ini kita berada pada satu masa dan situasi di mana orang tidak bisa bekerja secara sendirian, oleh karena itu kemampuan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi menjadi hal yang cukup penting, terlebih dengan kehadiran teknologi komunikasi. Kolaborasi adalah trend pembelajaran abad ke-21 yang menggeser pembelajaran berpusat pada guru menjadi pembelajaran kolaboratif. 

Lingkungan pembelajaran kolaboratif menantang siswa untuk mengekspresikan dan mempertahankan posisi mereka, dan menghasilkan ide-ide mereka sendiri berdasarkan refleksi. Mereka dapat berdiskusi menyampaikan ide-ide pada teman-temannya, bertukar sudut pandang yang berbeda, mencari klarifikasi, dan berpartisipasi dengan tingkat berpikir yang tinggi berpikir seperti mengelola, mengorganisasi, menganalisis kritis, menyelesaikan masalah, dan menciptakan pembelajaran dan pemahaman baru yang lebih mendalam.

Pembel aj aran kolaboratif j uga mengarah pada pengembangan metakognisi, perbaikan dal am merumuskan ide, dan diskusi atau berdebat dengan tingkat berpikir yang lebih tinggi. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar saling memantau satu sama lain, saling mendeteksi kesalahan dan belajar bagaimana untuk memperbaiki kesalahan mereka. 

Terdapat bukti kuat bahwa pembelajaran berpendekatan kolaboratif berbasis penyelidikan bermanfaat dalam pengembangan pengetahuan individu maupun kelompok. Siswa dapat mengembangkan konten pengetahuan dan belajar keterampilan abad ke-21 seperti kemampuan untuk bekerja dalam tim, memecahkan masalah yang kompleks, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam situasi lain (Barron dan Darling-Hammond, 2008). 

Hal ini berbeda dengan pembelajaran berbasis ceramah, pembelajaran kolaboratif adalah bentuk pengembangan interaksi siswa dalam membangun pengetahuan secara berkelompok. Libatkan dan Motivasi Siswa Motivasi belajar siswa harus menjadi perhatian yang serius dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21. Lingkungan belajar perlu dikembangkan sedemikian rupa agar lebih menarik agar pembelajaran tidak sekedar mentransmisikan pengetahuan (‘transmisi standar’). Saavedra dan Opfer (2012) menyatakan bahwa pembelajaran yang hanya sekedar bermodel 'transmisi standar' dapat melemahkan pengembangan keterampilan karena kurangnya relevansi yang menyebabkan kurangnya motivasi, dan pada akhirnya menurunkan tingkat pembelajaran.

Membina motivasi siswa untuk belajar mandiri adalah hal yang sangat penting bagi seorang guru. Berbagai hasil penelitian menunjukkan pentingnya peran guru dalam memotivasi siswa dan menemukan cara bagi mereka untuk membangun motivasi intrinsik. Motivasi didasarkan pada pengembangan minat siswa, menjaga keterlibatan mereka dan mendorong rasa percaya diri dan kemampuan mereka untuk melakukan tugas tertentu. Guru dapat mendorong pembelajaran dan motivasi dengan memastikan bahwa kesuksesan siswa diakui dan dipuji. 

Malone dan Smith (dikutip Meyer et al., 2008) juga menyarankan bahwa guru harus menumbuhkan motivasi dengan memperjelas dan berbagi tujuan pembelajaran kepada siswa. Budayakan Kreativitas dan Inovasi Inovasi dan kreativitas adalah kompetensi yang sangat berharga dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya, apakah kita para guru siap untuk mengubah pembelajaran konvensional dan mendorong siswa untuk berimprovisasi dan mengejar i novasi? Scott (201 5c) menyatakan bahwa beberapa sekolah telah mengajarkan siswanya untuk menciptakan pengetahuan; bukan hanya mengajarakan siswa untuk “memakan” pengetahuan yang statis dan lengkap. 

McLoughlin dan Lee (2008) berpendapat bahwa tujuan akhir dari belajar adalah merangsang kemampuan siswa untuk menyusun dan menghasilkan ide-ide, konsep dan pengetahuan. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila terpenuhi kebutuhan untuk pengalaman belajar yang bermakna yang memanfaatkan dan mengembangkan kreativitas siswa, dan bukan mematikannya.

Guru dapat memainkan peran kunci dengan mendorong, mengidentifikasi dan mengembangkan kreativitas siswa. Namun demikian, mengajar kreativitas seperti mengajar metakognisi, memerlukan lingkungan belajar untuk mendukung pertumbuhan kreativitas tersebut. Gunakan Sarana Belajar yang Tepat Perkembangan teknologi memainkan peran penting dalam pembelajaran dan dapat menciptakan peluang baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun teknologi semata tidak dapat menjamin keberhasilan pembelajaran. Terdapat banyak sarana pembelajaran bagi guru untuk merangsang belajar dan membantu siswa menciptakan pengetahuan baru.

Pertama, pertanyaan yang strategis. Pertanyaan adalah teknik yang efektif untuk melibatkan siswa. Pengajuan pertanyaan yang menyelidik dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan menantang siswa. Pertanyaan adalah sarana untuk mengukur apa yang sudah diketahui siswa atau menilai pemahaman mereka tentang konsep tertentu. Pertanyaan terbuka efektif untuk merangsang siswa agar belajar lebih mendalam, pemikiran diperluas, dan mengolah informasi lebih lanjut. Pertanyaan divergen memiliki beberapa kemungkinan jawaban dan mendorong siswa untuk menjadi kreatif dan berbagi wawasan mereka. Pertanyaan menantang yang diajukan dengan tepat dapat menarik dan merangsang diskusi dan pemikiran kreatif dan kritis. Pertanyaan mendorong siswa untuk mengeksplorasi dan mendefinisikan kembali pemahaman mereka tentang konsep-konsep kunci. Cornell University Center for Teaching Excellence (2014) mencatat bahwa siswa yang dapat mengajukan pertanyaan insighful lebih berhasil di sekolah. 

Kedua, Manfaatkan minat siswa terhadap "mobile technologies". Interaksi dengan teknologi digital sekarang sudah biasa di kalangan anak muda. Namun, teknologi ini masih memainkan peran kecil dalam pendidikan. Jika digunakan dengan tepat, teknologi ini menawarkan berbagai bentuk sarana pembelajaran, namun bukan berfungsi sebagai pengganti guru. Penggunaan teknologi mobile memiliki potensi untuk meningkatkan dinamika pembelajaran. Namun demikian, teknologi ini bukan sebagai satu-satunya solusi, tetapi sebagai sarana belajar dan berkolaborasi. Proses pembelajaran di masa mendatang pasti akan berlangsung di lingkungan di mana siswa membawa teknologi ke dalam pembelajaran mereka.

Dengan menggunakan perangkat mobile, siswa secara mandiri dapat dengan mudah mengakses bahan-bahan tambahan untuk memperjelas ide-ide dan berbagi pengetahuan dengan orang lain. Ketiga, manfaatkan media sosial. Media sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk menerapkan strategi pedagogik yang mendukung, memfasilitasi, meningkatkan dan memperbaiki proses pembelajaran. Redecker et al. (2009) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam belajar mendukung inovasi pedagogis dengan mendorong proses pembelajaran yang didasarkan pada personal isasi, kolaborasi dan perubahan pola i nteraksi antara siswa dan siswa, j uga antara antara siswa dan guru. Teknologi baru membuat tugas-tugas seperti mencari, menyaring, mengolah, mengevaluasi dan mengelola informasi menjadi lebih cepat dan efisien. P21 (2007b) menjelaskan bahwa teknologi komunikasi digital berpotensi untuk mengubah sekolah seperti halnya kurikulum. 

Kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menghubungkan pengalaman siswa dengan masalah dunia nyata akan mengubah fokus mereka dalam belajar. Jika siswa menyadari hubungan antara apa yang mereka pel aj ari dengan dunia nyata adal ah masal ah yang penti ng bagi mereka, maka motivasi mereka akan meningkat, begitu juga belajarnya. Pengalaman siswa di sekolah mungkin akan sangat berbeda dari kehidupan mereka di luar sekolah. Penggunaan konteks dunia nyata adalah komponen kunci dari pembelajaran abad ke-21. 

Menurut P21 (2007b), hasil penelitian menunjukkan bahwa jika guru menciptakan kegiatan pembelajaran yang bermakna yang berfokus pada sumber daya, strategi dan konteksnya sesuai dengan kehidupan siswa, maka tingkat ketidakhadiran menurun, kerjasama dan komunikasi berkembang, dan keterampilan berpikir kritis dan prestasi akademik meni ngkat. Ajarkan Keterampilan Metakognitif Secara singkat, metakognisi adalah 'berpikir tentang seseorang berpikir'. 

Hal itu mengacu pada proses yang digunakan untuk merencanakan, memantau dan mengevaluasi pemahaman dan kinerja seseorang. Metakognisi mencerminkan kesadaran kritis individu tentang bagaimana mereka berpikir dan belajar, dan penilaian mereka tentang diri mereka sebagai seorang pemikir dan pelajar. 

Metakognisi bukan semata-mata bakat intrinsik; tetapi dapat diajarkan secara eksplisit dan dilatihkan. Guru dapat melatih budaya metakognitif yang mendorong pembelajaran yang lebih besar dengan memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi kesulitan mereka, meminta mereka untuk menemukan kesulitan dan mengakuinya, dan mengintegrasikan refleksinya ke dalam tugas belajarnya. Bangun hubungan yang baik dalam pembelajaran 

Proses pembelajaran dan pengajaran yang berkualitas didasarkan pada hubungan yang kuat, saling menghormati dan saling menjaga kepercayaan. Pembelajaran sering kali merupakan hasil dimana ide-ide didiskusikan bersama antara guru dan siswa. Leadbeater (2008) menekankan bahwa siswa memerlukan hubungan yang memotivasi mereka untuk belajar. Memotivasi seseorang seringkali membutuhkan kepercayaan, keyakinan dan kemampuan; meningkatkan aspirasi dan harapan; menetapkan tujuan yang akan dicapai dan tantangan yang akan dihadapi; dan memberikan penghargaan yang relevan. 

Guru yang baik harus memiliki keterampilan memotivasi siswa. Hubungan yang baik akan membuat siswa merasa nyaman dan dipedulikan. Perhatian dan dukungan berasal dari guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan lingkungan sekitar. Fokuskan pada model pembelajaran berpusat pada siswa Pembelajaran abad ke-21 harus relevan, menarik, efektif dan berpusat pada siswa. 

Oleh karena itu penting untuk mengubah model pembelajaran “kelas tertutup” menjadi model yang berpusat pada siswa. Guru harus menjadi nyaman dalam mengelola dinamika kelas dan mendukung pembelajaran secara mandiri begitu juga guru harusmendukung eksplorasi dan pemerolehan pengetahuan dan keterampilan baru untuk menyiapkan siswa menuju abad ke-21 (Trilling dan Fadel, 2009). Kembangkan pembelajaran tanpa batas (kapan dan dimana saja) Saat ini siswa memiliki beragam pilihan dalam belajar, tidak terbatas pada ruang kelas.

Penggunaan beragam teknologi diluar kelas memungkinkan siswa untuk memiliki bentuk-bentuk pembelajaran (Furlong dan Davies, 2012). Setiap orang dapat belajar kapan saja dan di mana saja. Siswa dapat terus mencari dan memperoleh pengetahuan dimana saja dan kapan saja dari berbagai sumber termasuk buku, website, media sosial, dan lain-lain. Lakukan penilaian terhadap pemahaman dan kompetensi yang lebih mendalam 

Penilaian seharusnya terkait dengan pembelajaran dan digunakan untuk menginspirasi agar siswa belajar lebih mendalam. Untuk mengevaluasi pemahaman yang lebih mendalam, adalah penti ng untuk meni l ai sej auh mana pengetahuan yang terintegrasi, koheren dan kontekstual. Sesuatu yang tidak mungkin jika transformasi pembelajaran abad ke-21 tanpa disertai dengan penilaian sesuai pembelajaran yang dilakukan. Penilaian formatif sangat penting untuk pembelajaran abad ke¬21 karena bermanfaat untuk mengklarifikasi tujuan pembelajaran, memantau pembelajaran secara terus menerus, memberikan umpan balik, merespon kemajuan siswa, mendorong adaptasi dan perbaikan hasil belajar, dan melibatkan siswa dalam penilaian diri dan penilaian sejawat

Penilaian formatif memungkinkan diagnosis kesenjangan belajar, sehingga dapat ditangani sebelum siswa mengalami kesalahpahaman pengetahuan yang lebih mendasar atau kesalahan dalam menerapkan keterampilan. Rubrik dan alat penilaian formatif lainnya akan memainkan peran penting dalam kelas abad ke-21, karena guru dan siswa memiliki pedoman terhadap tingkat pencapaian hasil bel ajar. Siswa j uga harus di aj arkan bagai mana untuk mengeval uasi pembel aj aran mereka sendi ri. Hal ini akan membantu agar mereka menguasai konten dan meningkatkan keterampilan metakognitif mereka, termasuk kemampuan untuk belajar bagaimana untuk belajar dan untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari (Saavedra dan Opfer, 2012).

No comments:

Post a Comment

CARA MENGAJAR YANG EFFEKTIF

CARA MENGAJAR YANG EFFEKTIF Guru yang paling efektif memvariasikan gaya mereka tergantung pada sifat materi pelajaran, fase kursus, ...